Pembelajaran

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BAHASA DAN SASTRA JAWA

Pembelajaran kontekstual bukan barang baru (nothing new under the sun). Pada awal abad ke-20 John Dewey sudah mengemukakan konsep pembelajaran kontekstual yang diikuti oleh yang diikuti oleh Katz (1918) dan Howey & Zipher (1989). Ketiga pakar tersebut menyatakan bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pembelajaran. Agar pembelajaran menjadi lebih efektif, guru harus menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran, serta misi sekolah dalam masyarakat. Apabila guru menyepakati bahwa ketiga konsep tersebut bermuara pada Contextual Teaching and Learning, barulah Contextual Teaching and Learning akan berhasil baik. (lihat Kasihani dan Astini, 2001:2).

Sebagai satu konsep pendekatan kontekstual merupakan padanan dan istilah Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL sebagai satu konsep memiliki tiga definisi. Pertama, CTL dapat didefinisikan sebagai mengaiar dan belajar yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi nyata dan yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan terapannya dengan kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Kedua, CTL yaitu proses belajar mengajar yang erat kaitannya dengan pengalaman nyata. Ketiga, CTL dapat didefinisikan sebagai pembelajaran yang harus situation and content specific dan memberi kesempatan dilakukannya pemecahan masalah secara riil atau otentik, serta latihan melakukan tugas (Kasihani dan Astini, 2001:2).

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas. dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam-sekolah dan luar-sekolah agar dapat memecahkan masalah-masalah dunia-nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan

Strategi pembelajaran metode kontekstual dengan: (1) menekankan pemecahan masalah; (2) menyadari kebutuhan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan pekerjaan; (3) mengajar siswa memonitor dan mengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga menjadi siswa mandiri; (4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda; (5) mendorong siswa untuk belajar dan sesama teman dan belajar bersama; dan (6) menerapkan penilaian otentik.

Pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL) menawarkan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa dalam belajar lebih bermakna dan menyenangkan. Strategi yang ditawarkan dalam CTL ini diharapkan dapat membantu siswa aktif dan kreatif. Untuk itu, dalam menjalankan strategi ini, guru dituntut lebih kreatif pula.

Ada tujuh elemen penting, yaitu: inkuiri (inquiry), pertanyaan (questioning), konstruktivistik (constructivism), pemodelan (modeling), masyarakat belajar (learning community), penilaian otentik (authentic assesment), dan refleksi (reflection). Diharapkan ketujuh unsur mi dapat diaplikasikan dalam keseluruhan proses pembelajaran.

1) Penemuan

Penemuan (inquiry) merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Siswa tidak menerima pengetahuan dan keterampilan hanya dan mengingat seperangkat fakta-fakta saja, tetapi berasal dan pengalaman menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang pembelajaran yang bersumber dari penemuan.

Berikut ini sikius penemuan: (a) observasi, (b)bertanya, (c) mengajukan dugaan, (d) pengumpulan data, dan (e) penyimpulan.

Guru dapat secara kreatif mencari model inkuiri yang lainnya. Prinsipnya, pembelajaran dirancang secara induktif bukan deduktif.

2) Pertanyaan

Biasanya, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang berawal dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan berguna untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan siswa. Bagi siswa, pertanyaan berguna untuk menggali informasi, mengecek informasi yang didapatnya, mengarahkan perhatian, dan memastikan penemuan yang dilakukannya.

3)           Konstruktivistik

Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-idenya. Dengan begitu, siswa dapat mengkonstruksikan gejala-gejala dengan pemikirannya sendiri. Konstruktivistik merupakan urusan berpikir (fliosofis) metode kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak seketika. Manusia harus mengkonstruksikan pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman tidak melalui ingatan dan hafalan saja.

Guru perlu (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan ide sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam beiajar. Dengan begitu, pengetahuan tumbuh dan berkembang melaiui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru.

4)           Pemodelan

Dalam kontekstual, guru bukanlah model satu-satunya. Model dapat diambil dari mana saja. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk menjadi model di hadapan teman lainnya.

5) Masyarakat Belajar

Kerjasama dengan orang lain dapat memberikan pengalaman belajar bagi siswa. Siswa dapat mengembangkan pengalaman belajarnya setelah berdiskusi dengan temannya. Masyarakat belajar menyarankan bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dan bertukar pendapat dengan temannya, dengan orang lain, antara yang tahu dengan yang belum tahu, di ruang kelas, di ruang lain, di halaman, di pasar, atau di manapun.

Dalam kelas yang kontekstual, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar. Siswa belajar di kelompok yang anggota-anggotanya diharapkan heterogen. Yang tahu berada di kelompok yang belum tahu. Yang cepat menangkap berada satu kelompok dengan yang lambat. Kelompok siswa upayakan dapat selalu bervariasi dari segi apapun.

Masyarakat belajar dapat terjadi jika terjadi komunikasi dua arah atau lebih. Guru berdialog dengan siswa bukan berarti Masyarakat Belajar. Kemudian, kegiatan belajar akan berjalan dengan baik apabila kelompok tidak didominasi anggotanya. Semua anggota kelompok upayakan terbuka, bebas berbicara, dan saling aktif. Fungsi guru sebagai fasilitator dibutuhkan dalam konteks Masyarakat Belajar tersebut.

Contohnya, untuk membantu penalaran siswa dalam mengurutkan sebuah cerita, guru dapat memotong-potong paragraph sebuah cerpen. Kemudian, siswa dalam kelompok mengurutkan paragraph tersebut secara logis. Siswa akan saling belajar dalam kelompok.

6)   Penilaian Otentik

Perkembangan belajar siswa tentunya perlu diketahui guru. Dalam kontekstual, perkembangan belajar siswa dapat diketahui melalui pengumpulan data dan aktivitas belajar siswa secara langsung di kelas. Penilaian tidak dilakukan di belakang meja atau di rumah saja tetapi juga di saat siswa aktif belajar di kelas. Dengan begitu, tidak akan ada komentar dan siswa bahwa siswa X meskipun tidak banyak omong di kelas ternyata nilainya bagus. Sedangkan siswa Y yang banyak mendebat, berbicara, dan bercerita mendapatkan nilai rendah karena dalam ujian tulis bernilai rendah. Untuk itu, Guru perlu mengupayakan nilai siswa berasal dari sesuatu yang autentik.

Data yang diperoleh dan siswa haruslah dan situasi nyata. Guru tidak boleh ngaji (ngarang biji). Nilai yang diperoleh siswa memang mencerminkan keadaan siswa yang sebenarnya. Dapatkah guru berlaku seperti itu? Jawabnya, Guru harus dapat memberikan penilaian autentik jika menginginkan menjadi guru yang ekselen.

Penilaian autentik dapat diperoleh melalui projek, PR, kuis, karya siswa, presentasi, demontrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, karya tulis, atau yang lainnya. Dengan begitu, penilaian autentik benar-benar menggambarkan proses siswa dalam belajar dan awal sampai akhir. Penilaian dilaksanakan secara berkesinambungan, terintegrasi, terbuka, dan terus-menerus.

7)   Refleksi

Pernahkah guru mengungkapkan kembali apa-apa yang pemah dialami sebelumnya? Jika pernah, berarti guru telah melakukan refleksi. Ungkapan kembali itu tentunya dengan kalimat sendiri, singkat, atau bahkan dalam bentuk nyanyian. Jadi, refleksi adalah kegiatan merenungkan kembali, mengingat kembali, mengkonstruksi ulang, atau membuat inti pengalaman. Dengan begitu, kalau refleksi diterapkan kepada siswa di kelas, siswa berarti telah mengalarni pengendapan pengetahuan atau keterampilan yang telah dilakukannya.

Refleksi merupakan respon terhadap pengalaman yang telah dilakukan, aktivitas yang barn dijalani, dan pengetahuan yang baru saja diterima. Dengan merefleksikan sesuatu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajari. Refleksi tersebut dapat dilakukan per bagian, di akhir jam pelajaran, di akhir bab/tema, atau dalam kesempatan apapun. Realisasi refleksi dapat berupa pernyataan spontan siswa tentang apa yang diperolehnya han itu, lagu, puisi, kata kunci, cerita siswa, cerita guru, catatan di lembar kertas, diskusi, dan yang lain-lainnya.

Strategi dan Langkah-langkah Pembelajaran CTL

Menurut Blanchard (dalam Nur, 200/:4) strategi pembelajaran CTL: (1) menekankan pada pemecahan masalah; (2) menyadari kebutuhan akan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai konteks seperti di rumah, masyarakat, dan pekerjaan; (3) mengaiar siswa memonitor dan rnengarahkan pembelajaran mereka sendiri sehingga mereka menjadi pembelajar mandiri: (4) mengaitkan pengajaran pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda; (5) mendorong siswa untuk belajar dan sesama teman dan belajar bersama, dan (6) menerapkan penilaian otentik.

Pembelajaran yang didasarkan pada strategi pembelajaran kontekstual selayaknya disusun untuk mendorong munculnya bentuk belajar yang disingkat REACT, yakni: Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, dan Transfering.

Relating             : belajar dalam konteks kehidupan nyata,

Experencing      : belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan,

Applying           : belajar dengan memadukan pengetahuan dengan kegunaannya,

Cooperating      : belajar dalam konteks interaksi kelompok, dan

Transfering        : belajar dengan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru lain.

Yang dimaksud relating yaitu belajar dalam konteks pengalaman manusia. Ia merupakan jenis pembelajaran kontekstual yang khas terjadi pada anak-anak. Ketika anak-anak tumbuh semakin besar memberikan konteks yang bermakna untuk belajar menjadi semakin sulit. Kurikulum yang mencoba menempatkan pembelajaran dalam konteks pengalaman hidup harus minta perhatian siswa pada pada peristiwa, dan kondisi sehari-hari. Kemudian siswa harus menghubungkan situasi sehari-hari itu dengan informasi baru yang diserap atau masalah yang dipecahkan.

Experiencing -belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan diskaveri – merupakan jantung pembelajaran kontekstual. Akan tetapi, siswa mungkin akan menjadi termotivasi dan merasa nyaman berkat hasil strategi pembelajaran lain seperti aktivitas dengan teks, ceritera, atau video. Pembelajaran tampak akan berjalan lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi alat-alat dan materi dan mengerjakan bentuk-bentuk penelitian yang lain. Applying yaitu menerapkan konsep dan informasi dalam konteks yang berguna sering memproyeksikan siswa ke arah masa depan yang diharapkan atau ke arah tempat kerja yang mungkin tidak familier. Dalam pembelajaran kontekstual, penerapan sering didasarkan pada aktivitas okupasional. Hal itu terjadi lewat teks, video, lab, dan kegiatan, meskipun dalam banyak sekolah, pengalaman pembelajaran kontekstual itu akan diikuti dengan pengalaman  langsung, misalnya: wisata, pertanian,    pengaturan, pementoran, dan pemagangan.

Cooperating – belajar dalam konteks peragihan, penanggapan, dan pengkomunikasian dengan pembelajar yang lain – merupakan strategi pembelajaran yang utama dalam pengajaran kontekstual. Pengalaman bekerjasama tidak hanya membantu sebagian besar siswa untuk mempelajari bahan ajar. Oleh sebab itu, keterampilan kooperatif perlu mendapatkan perhatian serius agar dapat dikuasai dengan baik oleh siswa (Ardiana, 2001:3-4).

Sumber: PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA JAWA YANG  INOVATIF
DI SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
(Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)
Setya Yuwana Sudikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: