Pembelajaran

Pembelajaran Konstruktivistik

Konstrukstivisme merupakan salah satu aliran filsafat yang menekankan bahwa pengetahuan seseorang merupakan hasil konstruksinya sendiri. Pengetahuan bukan merupakan imitasi dan kenyataan, juga bukan gambaran atas kenyataan yang ada, melainkan akibat konstruksi kognitif dan kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas (Bettencourt, 1989).

Konstruktivis memandang belajar sebagai proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang dipelajari dengan pengertian yang telah dimiliki sebelumnya sehingga pengetahuan dapat lebih berkembang. Pembelajaran bukan kegiatan memindahkan pengetahuan darin guru kepada siswa, melainkan suatu aktivitas yang memungkinkan siswa berkesempatan membangun sendiri pengetahuannya. Dalam paham mi, pembelajaran mensyaratkan adanya partisipasi guru dan siswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi (Bettencourt, 1989). Dalam membangun pengetahuan, siswa mengonstruksi skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur yang berbeda-beda. Dalam hal ini proses abstraksi dan refleksi siswa mempengaruhi konstruksi pengetahuannya.

Asumsi sentral metode konstruktivisme adalah bahwa belajar itu menemukan. Meskipun pelatih menyampaikan sesuatu kepada peserta didik, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk dalam pemahaman mereka. Konstruktivisme dimulai dan masalah (sering muncul dan peserta didik sendiri) dan selanjutnya membantu peserta didik menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.

Metode konstruktivisme didasarkan pada teori belajar kognitif yang menekankan pada pembelajaran kooperatif, pembelajaran generatif, strategi bertanya, inkuiri, atau menemukan dan keterampilan metakognitif lainnya (belajar bagaimana seharusnya belajar).

Dalam pembelajaran yang didasarkan pada konstrukstivistik, tugas guru membantu siswa agar mampu mengonstruksi pengetahuannya sesusai dengan situasi yang konkret. Oleh sebab itu, tugas guru dalam proses pembelajaran menjadi lebih berat karena dituntut menguasai materi ajar secara luas dan mendalam. Selain itu, guru dituntut memiliki dan menguasai berbagai ragam strategi pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi siswa. Guru dituntut pula untuk memiliki intuisi yang tajam agar dapat mendeteksi strategi yang seharusnya diterapkan dalam suatu kondisi pembelajaran.

Piaget dan Vigotsky (dalam Nur dan Wikandari, 2001:3), menekankan bahwa perubahan kognitifhanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui proses ketidakseimbangan dalam upaya memperoleh informasi baru. Untuk itu dalam konstruktivistik terdapat empat aspek yang penting dalam pengembangan perubahan yang bertumpu dan aspek sosial dalam belajar. Keempat aspek itu adalah: (a) pembelajaran sosial, (b) zona perkembanagn terdekat, (c) pemagangan kognitif, dan (d) dukungan tahap demi tahap dan pemecahan masalah.

Dalam konstruktivistik, peserta didik seharusnya diberikan tugas-tugas kompleks, sulit, dan realistik. Kemudian mereka diberikan bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu misalnya, simulasi, penyelidikan di masyarakat, menulis untuk dipresentasikan ke pendengar sesungguhnya, dan tugas-tugas autentik lainnya (diambil dan kehidupan nyata).

Selain itu dalam pengajaran konstruktivistik lebih menekankan pada pembelajaran top-down daripada bottom up. Top-down yang dimaksud di sini adalah masalah-masalah kompleks dipecahkan peserta didik terlebih dahulu kemudian menemukan keterampilan dasar yang diperlukan. Sebagai contoh peserta didik diberikan konsep dasar paragraf barn kemudian menganalisis kalimat, mengeja, tata bahasa, dan tata bacanya. Sebaliknya bottom up lebih menekankan keterampilan dasar untuk mewujudkan yang lebih kompleks.

Pembelajaran yang bernaung dalam konstruktivistik adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dan konsep bahwa peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (4 orang dalam satu kolompok) untuk saling membantu memecahkan masalah masalah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif.

Kooperatif dilakukan dengan empat peserta didik yang berbeda-beda dan segi kemampuan atau ukuran kelompok. Peserta didik ditempatkan ke dalam kelompok kooperatif dan tinggal bersama sebagai satu kelompok untuk beberapa han. Mereka dilatih keterampilan khusus untuk membantu mereka dapat bekerja sama dengan baik, memberikan penjelasan dengan baik, dan mengajukan pertanyaan dengan baik.

Dalam kooperatif terdapat berbagai metode sebagai berikut:

(1) Student teams—Achievement Divisions (STAD), yang menggunakan satu langkah pengajaran di kelas dengan menempatkan peserta didik ke dalam tim campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan suku. Akhimya seluruh peserta didik dikenai problem (kuis) berkaitan dengan materi dan sesama anggota tim, saat mengerjakan kuis, peserta didik tidak boleh saling membantu;

(2) Team-Assisted Individualization (TAI) yang lebih menekankan pengajaran individual meskipun tetap menggunakan pola kooperatif

(3)      Cooperat Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah bagian metode kooperatif komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca dan menulis kelas tinggi. Dalam CIRC, peserta didik dikelompokkan berdasarkan perbedaan masing-masing sebanyak empat orang. Mereka terlibat ke dalam rangkaian kegiatan bersama, termasuk saling membacakan satu dengan yang lainnya, menulis tanggapan terhadap cerita, saling membuatkan ikhtisar, berlatih pengejaan, serta perbendaharaan kata.

(4)   Jigsaw. Dalam jigsaw, peserta didik dikelompokkan dalam tim beranggotakan enam orang yang mempelajari materi akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab. Misalnya, dan enam orang anggota kelompok saat mempelajari tema tokoh besar, masing-masing mempelajari riwayat hidup, prestasi awal, kemunduran yang dialami, dampak dan kiprahnya. Kemudian para peserta didik kembali ke timnya dan bergantian menceritakan hasilnya.

(5)      Belajar bersama (Learning Together), metode mi melibatkan peserta didik yang bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima peserta didik heterogen untuk menangani tugas tertentu. Kemudian mereka melaporkan tugas itu. Metode belajar bersama lebih mengarah pada pembinaan kerjasama dan keberhasilannya.

(6)      Penelitian Kelompok (Group Investigation) merupakan rencana organisasi kelas umum. Peserta didik bekerja dalam kelompok kecil dengan menggunakan inkuiri kooperatif (pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan), diskusi kelompok, dan perencanaan serta proyek kooperatif.

Istilah ‘kooperatif’ mengisyaratkan adanya aktivitas belajar dalam kelompok. Namun, pembentukan kelompok bukan merupakan tujuan utama proses pembelajaran yang dikembangkan. Pembentukan kelompok tersebut merupakan modifikasi tujuan pembelajaran dan yang sekadar menyampaikan informasi menjadi konstruksi pengetahuan secara indiovidual dalam kelompok. Pembentukan kelompok itu merupakan strategi agar siswa dapat berbagi pendapat, berargumentasi, dan mengembangkan berbagai alternatif pandangan dalam upaya mengontruksi pengetahuan (Suhartono, 2006:170).

Model pembelajaran kooperatif ditandai ciri-ciri berikut, (a) siswa belajar dalam kelompok-kelompok dan terikat oleh rasa saling bergantung dalam proses belajar. Penyelesaian tugas kelompok mewajibkan anggota kelompok saling bekerjasama; (b) interaksi intensif secara tatap muka; c) tiap-tiap siswa bertanggung jawab terhadap tugas yang telah ditentukan; (d) siswa harus belajar dan memiliki keterampilan komunikasi interpersonal.

Jigsaw merupakan satu di antara tida bentuk model pembelajaran kooperatif dua bentuk yang lain adalah Student Team Achievement Division (STAD) dan Team Games Tournament (TGT). Model pembelajaran kooperatif-jigsaw mempersyaratkan adanya materin ajar tertulis yang dapat dipelajari siswa. Kemampuan individual siswa untuk menjadi pasangan (peer) tutur bagi teman sekelompok merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Tiap kelompok terdiri atas beberapa siswa yang memiliki karakteristik heterogen, misalnya dan segi kemampuan akademis, latar belakang sosial-budaya, dan jenis kelamin. Empat kegiatan pokok yang dianjurkan dalam Jigsaw adalah (1) siswa membaca dan mengkaji materi pembelajaran yang bersifat heterogen pada kelompok asal, (2) diskusi kelompok ahli dengan materi yang bersifat homogen, (3) diskusi kelompok asal dengan modal “oleh-oleh” dan diskusi kelompok ahli, (4) tes/kuis atau silang tanya antar kelompok, dan (5) refleksi dan penguatan dari guru.

PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA JAWA YANG INOVATIF
DI SEKOLAH DASAR DAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
(Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)
Setya Yuwana Sudikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: